BALE
Setelah kematian ibunya yang mendadak , Farida (40) terjebak dalam rasa bersalah karena merasa telah mengabaikan sang ibu demi masa mudanya di perantauan. Tujuannya kini adalah memastikan Sal, anak tunggalnya, tidak mengulangi kesalahan yang sama dan bersedia menetap di Baubau untuk merawatnya di masa tua.
Di tengah prosesi adat buton yang kental dengan prosesi 7 hari jenazah dengan sedikit aura mistis , Farida banyak melakukan kontemplasi terhadap apa yang telah dan akan di laluinya di masa depan. dan pada akhirnya Farida harus menghadapi kenyataan pahit bahwa Sal justru berambisi untuk segera pergi dan menetap di perantauan demi karier. Melalui ritual pelarungan barang-barang terakhir sang ibu ke laut , Farida akhirnya menyadari bahwa ia tidak bisa memaksakan penebusan dosanya melalui hidup sang anak. Ia memilih untuk melepaskan Sal untuk melanjutkan hidup
FILM STATEMENT
Film pendek fiksi “BALE;” berangkat dari fenomena emosional yang sering dialami oleh keluarga perantau, yaitu benturan antara ambisi pribadi dan tanggung jawab moral terhadap orang tua. akan tetapi fokus utama dalam cerita ini tertuju pada sosok Farida, seorang ibu yang terjebak dalam ruang duka sekaligus rasa bersalah setelah kematian ibunya yang tidak sempat ia dampingi di saat-saat terakhir, dan harus menerima bahwa anaknya juga akan merantau, dan ia menyadari akan berada pada situasi siklus akan terus berulang.
Saya melihat konflik hari ini bukan sekadar antara modernitas dan tradisi, tetapi antara bertahan dan meninggalkan. Banyak yang pergi untuk bertahan hidup. Banyak yang tinggal untuk menjaga akar. Film ini tidak menghakimi keduanya. Ia hanya menyorot dampaknya: ruang kosong yang membesar di dalam keluarga.
Kesepian dalam film ini adalah refleksi dari masyarakat yang sedang berubah. Kehilangan bukan hanya tentang kematian seseorang, tetapi tentang perlahan memudarnya kedekatan dan rasa memiliki terhadap tanah sendiri.